Senin, 10 Juni 2013

Perempuan Pagi hari ini

Akan ada malam malam kamu menulis kayak orang gila. Kerasukan kata kata di kepala. Semua berlompatan. Dan kamu menikmatinya.
Ngelepasin sesuatu yang bukan milik. Membuat lebih lega. Bagian bagian yang tidak kelihatan. Selamat pagi!
Sedang menjadi penyihir dengan lipstik merahnya. Jangan dekat dekat!
Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!
Membuat sebuah kalimat pembuka pada sebuah paragraf seperti membuat kesan pertama: kamu harus yakinkan orangbanyak bahwa kamu layak disukai.

Dia Adalah Seorang Pemburu

nyalajingga adalah seorang pemburu. Ia mewarisi itu dari ibunya. Seorang ibu yang hidup karena mimpi-mimpinya. Seorang ibu yang keras kepala. Seorang ibu yang percaya pada hidup. Bahwa setiap jalan lika liku yang ia alami di dalam hidup adalah sebuah proses kehidupan.

Persis di sebuah sore temaram, ketika jingga di langit mulai tumpah bagai kuas di kanvas. Mereka duduk berdua, dan berbincang tentang mimpi. Ketika masih menyusu pada dada ibunya, nyalajingga kecil sudah bernyanyi. Ia bersenandung dengan merdu. Ia bilang bahwa suatu hari nanti, ia akan menyanyi seperti ibu.

Ibunya tertawa. Tawanya khas. Tawanya yang selalu membuat orang lain ingin tertawa juga. Tawa yang membuat seorang pria jatuh cinta. Pria yang kelak akan melakukan sesuatu untuk dirinya. Tanpa diminta. Mereka memiliki rahasia.

“Bahwa hidup ini penuh rahasia, Nak.”

Kata ibu kepada nyalajingga suatu hari. nyalajingga dengan mata besarnya menatap ibunya dan bertanya “lalu apakah setiap dari kita, menyimpan saja rahasia itu?”

“Simpan saja. Kadang memang kita perlu menyimpan sesuatu. Di situlah kita belajar apik.”

Begitu jawabnya.

Waktu berlalu. nyalajingga tumbuh. Ia tidak lupa pesan ibunya. Di bawah langit kini ia suka duduk-duduk menjelang sore. Berteman baik dengan warnanya. Warna yang menjadi namanya. Sesekali ibu masih tetap datang.